Sunday, January 24, 2016

Classic


It never fails me.

Beberpa hari lalu beli buku di periplus.com dan udah beres baca The Little Prince. Satu lagi beli kumpulan cerita klasik Hans Christian Andersen. Duh, bener deh, bisa ya mereka menginspirasi sampai puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun.

Mulai kepikiran untuk punya personal library supaya beberapa buku yang kira-kira readable buat Lateefa, bisa dia baca juga di kemudian hari. Beberapa minggu kebelakang memang lagi suka sama cerit pendek, puisi klasik, sama quote yang menginspirasi. Jadi berasa kaya kuliah dulu yang kerjaannya baca buku terus. Heheh. Bedanya kali ini ngga ada analisis karakter dan foreshadowing... tapi tetep aja sih pas baca sesuatu pasti langsung "ini simbol artinya ini nih" "oh bagian ini ada foreshadowing-nya tadi" "karakter ini perangai nya ini" and bla bla bla lainnya.

Buku The Little Prince sendiri cukup menohok buat saya. Cukup mengingatkan saya bahwa di dalam tubuh orang dewasa yang saya punya sekarang, saya ngga lebih dari salah satu grown-ups yang punya pikiran ruwet, penuh dengan kesombongan dengan merasa saya sudah dewasa dan yang paling bener, bahwa saya tidak sensitif, saya pengen sesuatu tapi ngga tau kegunaanya buat apa di kemudian hari.

Ada yang cukup menjadi highlight yang masih saya ingat dari cerita ini dan satu hal yang saya pikir benar karena seseorang yang saya tuakan, yang saya percaya, bilang "lebih baik diam, mengkel di tenggorokan, tapi justru yang diam akan mendapat pahala". Berbeda sama kebanyakan quote yang saya selama ini temukan "speak your mind" "You believe that things are better when left unsaid, well you're a fool" "do not be afraid for truth needs to be spoken" dan lain-lainnya.

Shakespeare bilang "some feelings are better remain unsaid" dan di buku The Little Prince ini "words are a source of misunderstanding".

No comments:

Post a Comment