Wednesday, May 24, 2017

NHW#2 - Individu

Image by Me (Using Rhonna Designs)

 "Paling suka kalau mama libuuy..Papa libuuy"
"Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata ga kelihatan".
"Kamu pinter banget ngomong"
"Pikir aja sendiri"
"Mama jangan marah-marah aja dong"
"Tifa seneng deh ke Afamat"
"Mah, makasi ya udah beliin aku Tingels *Pringles, RED"
"Mah udah dong mayahnya, nanti aku sedih kalau mamah mayah teyus"
"Benerin aja diri sendiri, ga usah lihat orang lain terus"
"'No money, no honey' iyes??" (Aduh seriius malesssss banget denger ini sebenernya. Hauahhah)
"Aku paling suka kalau mamah ga masak,ga keyja..Main aja sama Tifaaa"
"Mama makasi yaa udah beliin aku mainan"
"Habis akad nikah ya didenger suami"

Kalimat-kalimat yang jadi bahan renungan, yang keseringan diabaikan tapi kalau diulang-ulang ternyata maknanya dalem ya. Maknanya sangat dalam. Dulu, bahkan sampai sekarang terkadang saya lupa bahwa saya adalah seorang istri. Bahkan sekarang, saya sudah menjadi seorang ibu.

I keep on asking myself. Frequently asking myself : what for do I live? What value will I teach my kids about? What have I given to Lateefa this far (not about things of course, more to Islamic thoughts, religion value, and those similar things), what things have I given my husband? Was I failed? Was my husband satisfied enough of becoming MY husband?

Lots of.. Well, too much problems happened on the first year of our marriage. Countless bumpy roads. Obvious obstacles. We made it through together tho, but pain stays right? Pain does stays and I don't know how deep he bled for me, how many invisible knives I've stabbed to his heart while his position is MY husband?

I didn't know. Well I will NEVER know. What I know is : it stays. Pain stays. It can be healed but in some ways it can go deeper and there's no remedy to lessen the wound. How unfathomable the pain is. How abstract. How difficult to cure.

Tapi tetap masih bersyukur. Kalau sudah kejadian ya mau gimana lagi? Itu takdir. Itu udah jalan dari Allah. Pelajaran untuk suami dan saya. Let go. Forgive. Go on. Forget is whole different level. Buat ikhlas memang susaaaah sekali. But "things happened for a reason", rite? Remember "life is tough and so are you". Remember "it is not too late to be what you might have been". Never too late to pray for strength, never to late to pray to be forgiven, it is not too late to keep on praying and giving effort to things which are worth fighting for

"Semua dimulai dari diri sendiri".

I know. Oh how I know this. Praktek memang paling susah. "Agama itu praktek". Praktek ikhlas kalau masa lalu diungkit. Praktek oke-in aja kalau masi dikomplain tentang masa lalu. Praktek pura-pura ga sakit hati saat dituntut ini itu padahal semua keadaan masih tetap sama.

Mau..mau..sekali. Jadi individu, istri, dan ibu yang naik kelas. Yang bisa membuat anak dan suami senang dengab keberadaan saya. Mau sekali jadi individu yang tidak cepat sakit hati. Yang bisa mengubah sesuatu dalam diam karena saya tidak berbagi keluh kesah dengan siapapun melainkan dengan Allah. Mau sekali menjadi istri yang dirindukan suami. Entah dari masakan, entah dari lelucon kecil (atau garing) khas saya, entah dari pijitan saya.
Ingin menjadi ibu yang bisa menahan marah, bisa cuma tarik napas saja pas Lateefa numpahin susu/shake, ngompol di celana, jatuhin air minum, berantakin mainan dengan SENGAJA. Hhhhh.. Tapi kayanya jauh banget ya.. Eh. Wait. Kata Martin Luther King Jr.
"If you can’t fly then run, if you can’t run then walk, if you can’t walk then crawl, but whatever you do you have to keep moving forward."

Baby steps. But move forward. Hell, falling forward is okay. But put your target ahead. Be better. Well, hopefully this list will remind me the baby steps I should make.

Checklist indikator
Individu
Istri
Ibu

Sebagai Individu:
Bersyukur. Coba sebelum tidur, bilang 3 kalimat yang dimulai dari Alhamdulillah.. Kalau sudah 3, make it 4,5..10. Try this 3 times a week.

Bangun lebih pagi. Jam 5 aja deh dulu. Kalau biasanya jam 5.30 atau jam 6 kesiangan...Coba jam 5. Ga usah muluk jam 4.30 atau jam 4. Untuk yang ini agak challenging... 😅 2x seminggu dulu deh yaa.

"Calm is a super power". Coba deh kalem. Woles. Shantay! Terutama pas riweuh dengan keadaan di luar diri sendiri seperti mama, murid, suami, Lateefa, atau siapapun disaat mereka sedang membuat diri ini mau become invisible aja.

Istri
Berhenti ngeluh, bagikan yang bahagia untuk suami. Coba dalam dua hari, bisa ga tidak mengeluh. Twice a week. Only twice a week. 😂

Jaga lisan, yang sopan coba tahan ga usah GW ELO kalau marah. Ga usah bawa-bawa nama Allah buat pembicaraan ringan/becanda. Nama Allah bukan buat becandaan.

Jangan itungan. Kerjain semuanya SENDIRI. Ga usah ngarep suami bantu ini itu. Sendiri. Kalau bantu alhamdulillah, ngga juga ya ga apa-apa. (selama ini alhamdulillah berarti 😅) Coba minta tolong 'cuma' 2x sehari sama suami.

Ibu
Tahan yelling dan marah. Kata Ust. Khalid Basamalah bolehlah marah kalau urusan agama..kalau yang lainnya  ga apa2 agak 'longgar'. Ini challenging juga nih. Dua hari no yelling dalam seminggu? Mari mita coba.

Ajak baca segala yang berbau islami lebih sering. Pengen lebih sering bacain surat Al-Fatihah sampai Lateefa hafal. Bacain cerita 3x seminggu sebelum tidur yaa. Oya, Insha Allah memang mau belikan mukena, pashmina instan, dan gamis buat Lateefa. Semoga bisa lekas terlaksana. Amiin.

Main pretend play, baca buku, main sama Lateefa without gadget for 15 minutes. Selama ini alhamdulillah selalu main sama Lateefa tanpa megang hp lebih dari 30 menit. 4times a week? Challenge yourself Dit 🙈
This is just reminder how baby step is okay kalau suatu hari sibuk banget atau mesti nitip Lateefa seharian. We'll never know what's gonna happen, rite? 😘

Phew! What a list. What a story.
NHW#2 ini wajib disalamin sama saya. Since, I don't know.. how long has it been since my last visit to myself? This NHW#2 really helps me dive into untouched room in my own self. Self that is tired of seeing hatred. Self that is filled with wrong point of views. Self that is being seen as a fool. Self that is giving up. Karena semua dimulai dari diri sendiri, dimulai dari dalam sini (nunjuk ke hati, depan kaca, now I'm crying). Dear, Dita. Jangan pernah capek buat benahin diri sendiri. Karena kalau nanti meninggal, tangan bisa jadi saksi loe pernah nulis ini. Nulis refleksi, where deep down inside you need to be mend..but never broken..and you'll never lose hope.

Coba print checklist ini. (Terima kasih banyak untuk contohnya, mbak Nonie). Dan jangan lupa evaluasi diri. Daripada komplain tentang sana-sini lebih baik sibukin memperbaiki diri. Sibukin diskusi membangun bersama suami. Sibukin diri lebih sering ngobrol sama anak. Dicoba ya, Dita. Baby steps. It is okay kok..daripada diem di tempat. Jangan lupa 'kosongin gelas' saat denger komplain :)




No comments:

Post a Comment