Monday, June 19, 2017

*4%6:)£✓~}¶•÷©



Tanggal segini belum dapet itu rasanyaaaaa. Hadeehhh.

Rusak lah puasa hari ini karena abang grab yang rempong dan Lateefa yang rewel saat mau pupup 😗

Ada-ada aja deh. Apalagi mama yang biasa deh ga mau disalahin dan apapun selalu she the queen who wins.

But it just sounds wrong. Blaming on others will NOT make things better. Accepting I made mistakes will hopefully make things better. Karena awal dari memperbaiki kesalahan itu menerima bahwa kita salah, kan? Menerima bahwa gw salah I couldn't be as calm as I was. Kadang pissed off dan sedih aja jadinya nangis.

I was wondering why I had gone mental like that. What made me so angry, so disappointed? Nah, jdi inget pelajaran PRA NIKAH di IIP. Bagian pra nikah mana yang belum selesai sampai akhirnya bikin saya marah sama Lateefa yang rempong karena mau pupup which she does almost all the time now *sigh* so rempong and real.

I remember my mom once said to me when I was 7 or 8 waktu malem-malem minta indomie "hih nyusahin aja punya anak teh". Dan papa yang kalau marah banting telepon, ngomong kasar ke mama dan mama bales ngomong kasar. One thing paling ajaib : they didn't discuss or say "I'm sorry" or hug each other. Semakin ikut IIP semakin sadar that I am such a little girl who is so broken inside. Who needs to take a break and accept someone's help on my way through the finish line. Mungkin masa pra nikah itu yang masih belum kelar. Yang masih bikin keselnya pasti karena mama ngerasa selalu bener sendiri, sampe sekarang nyalahin orang sekitar dan never takes responsibilities. Capek juga kan hidup sama orang delusional and full of excuses. Someone who gives too much sh*t on everything. Who complains a lot. Who never is showing gratitude. How miserable.

Have I become her?

The fact that I came from such ruwet family makes me think harder kenapa sih gw dilahirkan di keluarga seperti ini? Lagi-lagi dan lagi di IIP dikupas habis tentang visi misi hidup gw dan gw merasa okay, this is it. Gw mesti jauh lebih berilmu dan beramal berdasarkan ilmu yang gw punya. Bakal lebih sering menerapkan apa yang gw tahu tentang relationship k suami dan anak.

Allah Maha Penolong. Ga mungkin tiba-tiba gw lahir tanpa maksud. Pernah baca cerita mba siapa di IIP Batch 4 bahwa kehidupan nya ternyata jauh lebih ajaib dari saya. How shallow am I? How itchy it can be when that fact bugs me? Kenyataan bahwa banyaj orang di luar sana jauh lebih ajaib kehidupannya dari saya.

Bener kata suami I have to go out. I have to have fun and let loose of what I cannot control. I have to embrace the process. I have to accept mistakes after mistakes I have made.

"Mama kok nangis? Mama udah belum nangisnya? Jangan lama-lama dong mah nanti Tifa jadi sedih. Maah, tenang yaa.. Tifa kan ada disini. Mama mau gendong? Mau diciyum?"

😄

She was bombing me with questions while I was crying. How magical life can be, Nak. How easily drifted I was?

"Mm..mama mau peluk aja boleh?"
"Ngga boleh. Tifa dulu peluk mama nanti mama baru peluk Tifa yah.."
"Okay😅"
And we hugged each other. I said sorry. "Maaf ya, Nak mama marah. Mama tau kamu lagi mau sama mama. Mau eksplorasi..cuma ada batesan waktu aja buat rewel dan eksperimen kan".
She replied with "Mama maafin Tifa yaa.."
...
"Mama udah jangan nangis lagi dong kita main aja yuk. Ayo mah buka mukena nyaaaa".

Bersyukur. Lalu meminta maaf sama Allah atas apa yang udah gw keluhkan.

"Makasi ya Nak..udah temenin mama. Teteh inget aja mau mama marah atau kesel gimanapun, mama sayang banget sama teteh. Maafin mama ya Nak".
"Iya mah. Nih mah aku udah lipetin sadadahnya".
"Sa-ja-dah".

Cannot wait for tomorrow. Cabut ah gw. Kemana ya. 😅 Mall pasti penuh. Jalan aja muter ke sempur yaa hehe...eh, atau ke playground deket rumah ajaaa 👏👏👏

Terima kasih ya Allah, sudah selalu memberi kesempatan untuk saya menjadi ibu yang jauh lebih sabar dan lebih baik.

No comments:

Post a Comment