Thursday, June 1, 2017

NHW#3 Rumah Peradaban

Image by me (Using Rhonna Design)


"I am so proud of what we are now. I am overwhelmed with the process tapi proses itu yang ngebentuk kita sampe akhirnya jadi kaya sekarang."

Apresiasi itu penting banget. I admit it. Setelah memberikan apresiasi dengan kutipan kata di atas, suami peluk erat dan bilang terima kasih berkali-kali sebelum berangkat kerja. Masi inget tatapan matanya..Lebay yaah..😅

Saya minta suami baca 'surat cinta' dari saya berisi apresiasi untuk dia. Walaupun dia ngga terlalu kelihatan excited pokonya udah kesampean aja nulis surat cinta. Yang penting kudu, mesti, harus ngasi surat. Keukeuh banget saya teh, ya...

Mungkin keukeuh itu menurun ke anak saya. Apa yang dimau harus didapet. Eh tapi karena umur dia baru mau 3 tahun juga sih ya. Lateefa itu anak yang bossy, tapi ceria dan menyenangkan. Dia anak periang. Saya senang punya Lateefa, bener-bener menghibur ditemenin dia setiap hari. Pelipur lara. Sering ngerasa bangga sama diri sendiri juga 😅 Dari lihat dia yang belum bisa jalan, belum bisa megang sendok dan makan sendiri, ga tahu mana warna putih hijau kuning, sekarang she knows! Makan sendiri, berhitung 1-10, one to ten, nyanyi lagu anak-anak. Baru 34 bulan loh kamu Nak! 👏 Lateefa cepet banget menyerap apa yang ada di sekitar dan copy paste people. Harus lebih hati-hati bersikap memang kalau ada dia ya.. Ga boleh cepet ambekan..Kaya saya 😭

Saya orang yang keras kepala dan ambekan. Baperan juga 😂 Adatnya ga bagus banget. Saya jarang mau ngalah, apalagi di awal pernikahan, apalagi sebelum punya anak.
Suami juga termasuk orang yang blak-blak an. Dia lahir dari keluarga cukup harmonis. Saat dewasa, dia kuliah di luar negeri, kembali ke Indonesia langsung bekerja. Saya jatuh cinta sama dia sejak saya kuliah (11 tahun lalu!). Kami akhirnya menikah tahun 2013. Makin kelihatan deh perangai asli masing-masing. Dari marahnya, jengkel, baik, buruk. Semua!

Makanya kalau lihat Lateefa marah, lagi ga mood dan rewel, ngeburu-buru sesuatu harus cepat selesai.. itu tuh beneran kombinasi saya dan suami. (Duh. Tepok jidat).

Tapi saya tahu Allah pasti punya maksud. Saya diberi suami Kicky dan anak Lateefa, supaya saya lebih sabar? Supaya saya terbiasa dengan yang namanya mengalah. Supaya saya bisa mengurangi keras kepala saya. Supaya saya lebih ikhlas dan ga menyimpan dendam? Siapa juga yang mau kesel berlarut-larut kalau lagi ada masalah sama anak dan suami?

Belum lagi saat ini saya masi tinggal bersama mama saya. Dari dulu mama terbiasa menjelekkan papa di depan saya dan kakak. Bilang papa tukang bohong. Ga bertanggung jawab. Ga punya uang. Mama yang handle semua urusan rumah. Pemarah. Dan saya menurunkan sifat jelek papa yang pemarah itu (Mama selalu bilang saya keras kepala dan rapuh). Papa penakut. Laki-laki otoriter.
Dalam hati kecil saya, saya selalu berkata lirih but mom..he is my dad. There's nothing to do with me. Bicaralah pada orang dewasa Ma.. jangan ke saya.
Hal di atas bikin saya susah untuk respect ke suami. Hal di atas bikin saya bilang ke diri saya bahwa suami itu bisa dijelek-jelekkan. Suami itu sumber segala kesalahan.

Dengan keras kepalanya suami saya sekarang (ke arah yang benar), dengan blak-blakan nya dia kalau sedang tidak suka dengan sikap/sifat saya, dengan terlalu sering dia bilang "pikir sendiri", saya jadi terlatih untuk berfikir, terlatih untuk menerima kekurangan saya (prosesnya panjang dan ngga ngenakin), terbiasa dengan kejujuran dia yang nyakitin. But that's him. Suami yang menjadi payung saya seumur hidup. Imam saya. Di tahun ke 3-4 pernikahan kami, saya banyak belajar dan banyak tahu tentang hubungan istri-suami, ibu-anak.. dan alhamdulillah hampir semua tidak ada di mama-papa saya.

Alhamdulillah saya bisa bilang ke diri saya sendiri saya harus bisa lebih baik dari mama-papa. Harus lebih bijaksana, lebih fun, lebih show affection ke suami di depan anak atau ke anak di depan suami. Little kisses and hugs misalnya.
Justru dengan masa lalu saya yang ruwet, suami yang saya punya sekarang, sifat buruk yang saya punya sejak lahir, Lateefa yang keukeuh.. sepertinya semua adalah kolaborasi yang Allah buat supaya saya menjadi manusia yang lebih sabar, lebih nerimo, lebih berbesar hati dengan perbedaan dan kesalahan, lebih mah mengalah, supaya tidak mendendam.

Saya bersyukur. Sungguh bersyukur. Karena kalau tidak ada kolaborasi di atas, akan seperti apa sifat saya? Akan bagaimana kehidupan saya setelah mati kalau masih keras kepala dan pendendam. Saya tahu Allah Maha Penyayang, Maha Penolong, Maha Segala-galanya. Mungkin itu kenapa semuanya datang pada saya. Supaya setidaknya saya meninggal bawa amal baik bahwa saya sudah mengalah, bahwa saya sudah bersabar, bahwa saya menahan marah dan kesal saya.

Karena peradaban dimulai dari rumah. Pendidikan utama dimulai dari rumah. Akhlak pertama yang di copy-paste adalah akhlak di rumah. Mau jadi apa anak saya kalau saya, si pemegang kunci peradaban punya sikap dan sifat seperti saya di awal pernikahan dan saya sebelum punya anak. Kalau diingat-ingat saya bergidik sendiri. How  could I be so difficult to handle? So hard-headed. So full of anger. So negative. So stupid? Sementara saya mau anak saya jadi manusia solehah kebanggan orang tua dan agama?

"Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Alhamdulillah".

Bersyukur. Itu yang selalu saya katakan ke diri sendiri. Alhamdulillah saya diberikan kolaborasi menarik dari Allah. Saya banyak belajar dan introspeksi diri. Bersyukur ada NHW#3 ini. Bersyukur saya tidak menunda ikut IIP. Kembali mengingat kata-kata Rasulullah SAW. "Ibumu. Ibumu. Ibumu".

Betapa penting seorang ibu di mata Rasulullah SAW. Betapa pentingnya SAYA.
Semoga kehadiran saya sebagai ibu dan istri bisa menjadi penyejuk hati anak dan suami saya. Amiin.

No comments:

Post a Comment